Motherhood

ASI sedikit

Saya bukan ibu yang bisa berbangga diri dengan mem-posting di Instagram foto berbotol-botol atau bertumpuk-tumpuk kantong ASI hasil pompa yang disimpan dengan rapi di dalam kulkas khusus. Bukan. ASI saya tidak berlimpah, seringkali malah kurang, tapi mudah-mudahan cukup untuk anak saya, Alya, yang saat ini sudah berumur 10 bulan. Beratnya memang di batas ideal bawah tapi alhamdulillah perkembangannya baik dan normal.

Dulu, saya sering merasa down dengan kondisi saya ini. Gimana ngga, sudah minum berliter-liter air dan susu, makan sayur dan buah, mencoba berbagai macam suplemen (mulai dari pil-pil dengan kandungan katuk, fenugreek dsb, chocolate bars, sampai minuman serbuk), rajin pumping dsb, ASI saya tetap segitu-segitu aja. 1 jam pumping (gantian 10 menit tiap sisi) rata-rata saya hanya dapat 10-30 ml. 3x pumping baru saya bisa mengisi penuh 1 kantong ASI 100 ml. Melihat sekian banyak ibu-ibu bisa berbangga diri mendapat kondisi yang tidak bisa saya punya rasanya sedih. Saya merasa menjadi ibu yang gagal, yang masih kurang usaha untuk anaknya.

Apalagi saat baru sampai di Amerika, perbedaan waktu 12 jam dengan di Indonesia membuat badan saya bingung, kehilangan selera makan, waktu makan dan tidur juga jadi terbalik dan berantakan, yang secara langsung mempengaruhi asupan ASI untuk anak saya. Sedih rasanya melihat Alya menangis tiap malam karena lapar sementara ASI saya tidak keluar. Hal ini berlangsung selama beberapa minggu sampai akhirnya saya dan suami memutuskan untuk membeli susu formula dan mencoba berbagai botol, yang gagal semua karena anak saya menolak mentah-mentah. Alhamdulillah setelah kira-kira satu bulan, jetlag saya hilang, kami mulai bisa beradaptasi dan produksi ASI saya seperti biasa lagi (tidak berlimpah tapi cukup).

Saat masih di Indonesia, saya sering mendapat komentar yang kurang enak, bahkan dari orang-orang terdekat, seperti misalnya:

  • saat anak terus-menerus menangis dan tidurnya kurang nyenyak, “ASInya kurang tuh, dia lapar makanya rewel terus.”
  • saat badan saya tetap berisi sementara anak saya kurus “Gimana sih, kenapa malah ibunya yang gendut, anaknya kecil gini.”
  • saat payudara saya kempes setelah menyusui, “Yah, ini mah ngga ada isinya.”
  • saat menyimpan hasil pompa yang cuma 20 ml di kulkas, “Walah, cuma dapat segitu. Encer banget lagi. Si anu kalau mompa blablabla…”

Saya sedih banget mendengarnya, stress dan mungkin berpengaruh ke produksi ASI juga. Walaupun mungkin maksud di balik berbagai perkataan itu baik, kalau tidak disampaikan secara baik, bagaimana bisa jadi terdengar baik? Dan berbagai asumsi salah yang sudah mendarah daging layaknya pengetahuan umum digunakan untuk mengomentari keadaan saya ini, padahal secara ilmiah sudah terbukti sebaliknya, misalnya:

  • Bayi menangis ya karena itu satu-satunya cara dia berkomunikasi. Penyebabnya juga bisa bermacam-macam, bukan hanya karena ASI-nya kurang.
  • Berat badan ibu tidak ada hubungannya dengan berat badan bayi, yang ditransfer kan ASI, bukan lemak (andaikan ya bisa mentransfer lemak, anak saya pasti gede banget).
  • Payudara kempes setelah menyusui artinya bagus, ASI diserap optimal oleh bayi dan tubuh sedang memberi sinyal untuk memproduksi ASI lagi.
  • Hasil pompa pada kenyataannya bukan merupakan indikator seberapa banyak ASI yang diproduksi oleh ibu karena pompa ASI punya kemampuan terbatas, beda dengan isapan bayi yang jauh lebih efektif. Masalah ASI encer, itu karena lebih banyak foremilk (ASI yang kaya laktosa dan protein penting untuk pertumbuhan otak) daripada hindmilk (ASI yang lebih kental dan mengandung lebih banyak lemak dan bermanfaat untuk pertumbuhan fisik anak). Keduanya sama pentingnya.

Informasi-informasi tersebut (dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya ceritakan disini) saya dapat setelah banyak membaca dan menemukan berbagai artikel tentang ibu-ibu dengan kondisi seperti saya: living with low milk supply. Mata saya jadi terbuka dan alhamdulillah, sekarang saya bisa lebih menerima keadaan. Karena tiap perempuan itu berbeda. Semua ibu pasti ingin memberi yang terbaik untuk anaknya tapi ada berbagai macam kondisi yang membuat perjuangan tiap ibu berbeda-beda. Dan setelah saya pikir-pikir, toh saya stay-at-home-mom, ngga pernah pisah sama sekali dari anak. Yang ASI-nya berlimpah itu mungkin ibu-ibu yang bekerja, yang harus pisah tiap hari dari anak atau yang bisa membantu ibu lain yang tidak bisa memberi ASI. Saya mompa juga kalau ada keperluan khusus yang perlu ninggal anak atau bikin susah menyusui langsung, yang jarang sekali. ASI saya juga ngga kurang-kurang amat, cukup untuk anak saya. Frekuensi buang air kecil dan besarnya masih normal, anaknya juga pintar, lincah dan ceria.

Tapi bukan berarti saya berhenti berusaha. Saya terus minum (walaupun kadang hanya 2 L per hari), makan sayur, minum suplemen (ngaruh sedikit tapi terus biasa lagi). Alhamdulillah setelah 6 bulan agak terbantu dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Frekuensi menyusui berkurang tapi kebutuhannya semakin meningkat jadi tetap saja harus terus berikhtiar supaya ASI-nya cukup sampai anak 2 tahun. Yang penting usaha dulu.

Jadi, buat ibu-ibu dengan kondisi seperti saya ataupun kondisi lainnya, tetap semangat yah! Kalau berbagai usaha sudah dicoba tapi tidak berhasil, tidak apa-apa, harus belajar ikhlas menerima keadaan diri, doesn’t make us less of a mom. Remember, our kids will always love us!


Featured image from https://intermountainhealthcare.org/blogs/topics/intermountain-moms/2017/01/the-best-foods-for-nursing-moms/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *