Motherhood,  Pengalaman,  Rumah Tangga

Menikmati tinggal di luar negeri

Sampai saat ini, saya sudah pernah tinggal di 3 negara berbeda di luar Indonesia, yaitu Jerman, Filipina dan Amerika Serikat. Masing-masing negara memberi kesan yang berbeda dilihat dari sudut pandang saya waktu itu saat masih menjadi pelajar dan sekarang setelah jadi ibu rumah tangga. Disini saya mau berbagi sedikit tentang pengalaman saya tinggal di tiap negara tersebut.


JERMAN

Saya tinggal di Jerman pada Tahun 2013-2014 karena mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah dengan beasiswa dari pemerintah Jerman. Pengalaman tinggal disini bisa dibilang semacam pencerahan buat saya karena kehidupan di negara maju, khususnya Jerman, itu life goals sekali, peningkatan drastis dari kehidupan di Indonesia. Standar hidupnya tinggi, semua serba teratur dan terorganisir, plus ramah lingkungan. Transportasi publiknya top banget. Semua tempat bisa gampang dicapai dengan kereta, kadang disambung sedikit dengan bis. Gratis untuk mahasiswa (untuk umum ada tiket harian, mingguan atau bulanan), dan berlaku di satu negara bagian, khususnya di Nordrhein-Westfalen (di beberapa negara bagian, transportasi publik gratis untuk mahasiswa hanya berlaku di satu kota, contohnya Stuttgart). Jadi, karena saya tinggal di Dortmund, yang berada di satu negara bagian (Nordrhein-Westfalen) dengan kota-kota terkenal seperti Köln, Düsseldorf, Bonn, Aachen, saya bisa kesana gratis naik kereta, bahkan ke kota perbatasan Jerman-Belanda, yaitu Enschede, karena menjadi pemberhentian terakhir kereta dari Jerman. Kalaupun mau ke negara bagian lain, seperti Berlin, Stuttgart, Hamburg, bisa naik kereta (kalau jadi member bisa dapat diskon) atau bis yang harganya lumayan murah.

Orang Jerman sangat menghargai waktu sehingga transportasi publiknya sangat bisa diandalkan karena selalu tepat waktu. Saya bisa merencanakan kalau misal perlu sampai di kampus jam sekian, maksimal saya harus keluar dari apartemen jam berapa, jalan sekian menit ke halte untuk ngejar bis yang datang di jadwal sekian. Sangat bisa diprediksi. Jadi, kalau misalnya telat ya memang salah sendiri, tidak bisa menyalahkan kemacetan atau moda transportasi. Beberapa kali pernah kereta telat (hanya) beberapa menit karena hal-hal teknis, semua orang di stasiun reaksinya sama, resah, gelisah, gundah bahkan marah karena jadwal mereka jadi berantakan. Ngga lebay sih karena kadang memang merusak rencana. Misal, mau ke suatu tempat dan sudah memperkirakan sampai di stasiun A pukul sekian untuk selanjutnya bisa mengejar bis yang datang beberapa menit kemudian. Ternyata keretanya telat jadinya gagal ngejar bis dan harus menunggu 15 menit lagi. Buat orang Indonesia sih sepele tapi disini telat 5 menit saja sudah jadi suatu kesalahan yang akan selalu diingat, dianggap tidak menghargai. Oleh karena itu, kalau ada demo masinis-masinis kereta (yang sangat tertib), penumpang sudah diinformasikan dari jauh-jauh hari supaya bisa mengatur ulang rencana perjalanan mereka saat jadwal transportasi akan berbeda dari hari biasanya.

Kehidupan di Jerman juga sangat ramah lingkungan. Terlihat dari budaya memilah sampah yang ada di semua permukiman. Awalnya saya pusing, tapi lama-lama jadi terbiasa dan senang mengumpulkan sampah-sampah yang bisa di-recycle. Rasanya seperti ikut berkontribusi menyelamatkan bumi, ceilah hahaha.. Selain itu, kalau beli minuman di supermarket, harganya sudah termasuk deposit botol yang bisa kita dapatkan lagi kalau botolnya kita recycle (kadang pilihan juga sih). Biasanya saya kumpulkan dulu botol-botol bekas sebanyak-banyaknya, terus waktu mau belanja ke supermarket dibawa dan dimasukkan ke mesin recycle. Kalau sudah selesai, mesin akan mengeluarkan voucher dengan nilai deposit botol yang bisa kita pakai belanja. Saking senangnya sama aktivitas ini, saya pernah dapet voucher 11 Euro dari botol yang nilainya antara 0.25-0.5 sen! Kebayang ngga berapa banyak botol bekas yang saya kumpulkan, hahaha..

Selain masalah perbotolan bekas, di Jerman kalau belanja harus bawa kantong sendiri, ngga ada kantong plastik. Kalau tidak bawa atau tidak punya, supermarket menyediakan kantong belanja di rak-rak sebelum kasir tapi harganya mahal banget, bisa sampe 10 Euro! Disinsentif yang bagus banget untuk mendorong orang bawa kantong belanja sendiri sih. Teruuus masuk-masukin belanjaan juga sendiri, kasir kerjaannya cuma scan barang terus bilang total harga, hahaha.. Saya selalu kalang kabut setiap belanja karena setelah meletakkan barang belanjaan di conveyor belt, kasirnya langsung scan dan kita harus buru-buru masukin ke kantong sekaligus bayar dan nerima kembalian, soalnya di belakang kita orang lain sudah mengantri. Efisien sekali belanja disini. Sebenarnya masih banyak yang bisa diceritakan dari Jerman, tapi buat saya yang paling berkesan adalah hal-hal yang saya ceritakan di atas, mulai dari transportasi publiknya, keteraturan, efisiensi, sikap menghargai waktu dan gaya hidup ramah lingkungannya.

Saya kurang bisa banyak cerita tentang sifat orang-orang Jerman karena rata-rata yang banyak berinteraksi selama saya kuliah disana adalah dosen, asisten dan mahasiswa internasional lain sehingga yang bisa saya lihat hanya sisi profesional mereka dan fakta kalau mereka sangat strict soal pemisahan waktu bekerja/belajar dan personal. Tapi dari interaksi terbatas saya dengan beberapa orang Jerman yang sifatnya lebih personal, mereka orang-orang yang pengetahuannya luas sekali, sangat baik dan senang menjamu tamu. Jarang yang bisa berbicara Bahasa Inggris jadinya lebih menghargai kalau kita berusaha berbicara dalam Bahasa Jerman walaupun terbata-bata. Kurang banyak tahu tentang Islam dan muslim walaupun penduduknya banyak imigran Turki sehingga ada beberapa kesalahpahaman yang menjadi asumsi mereka terhadap kita, diantaranya ketika teman saya berpikir bahwa saya menutup aurat hanya ketika cuaca sedang dingin. Ketika musim panas, saya terkaget-kaget melihat orang-orang yang kayanya jadi ngga suka baju. Kulit semua diekspos. Sementara orang lebih kaget lagi melihat saya masih aja rajin pakai baju panjang panas-panas begitu, hahaha.. Mereka juga heran kok ada orang yang ngga suka bratwurst (sosis yang biasanya dibuat dari daging babi) atau minum bir (karena buat mereka, beer is life and culture). Inilah pentingnya interaksi muslim dengan warga internasional, salah satunya untuk meluruskan berbagai kesalahpahaman dan menjelaskan kalau Islam, seperti halnya semua agama, mengajarkan kebaikan. Overall, saya menikmati banget hidup di Jerman dan cukup sedih waktu 1 tahun studi disini selesai dengan sangat cepat. Ini negara idaman banget untuk ditinggali, beneran deh.


FILIPINA

Setelah Jerman, saya langsung pindah ke Filipina untuk melanjutkan studi saya. Karena sudah mulai terbiasa dengan cara hidup di Jerman, begitu pindah ke Filipina saya langsung stress sekali. Terlalu beda! Pace-nya jauh lebih lambat. Mungkin kalau saya langsung pulang ke Indonesia saya juga bakalan stress seperti ini. Tapi karena alasan ini dan terutama hal-hal kurang mengenakkan yang saya alami di kampus, pengalaman saya tinggal di Filipina jadi terasa kurang berkesan. First impression yang buruk jadi menutupi seluruh hal-hal menyenangkan yang bisa dinikmati disini. Padahal ada banyak kemajuan yang sudah dicapai oleh Filipina bahkan sebelum Indonesia, misalnya saja MRT dan LRT yang sudah beroperasi di Metro Manila sejak tahun 2000. Di saat di Indonesia baru mulai dibangun, di Metro Manila sudah lebih dari 10 tahun umurnya, ckckck.. Bentuknya kurang lebih seperti KRL commuter line walaupun lebih kecil.

Photo by AFP PHOTO/NOEL CELIS taken from http://www.mrt3.com/

Selain itu, naiknya harus antri yang tertib loh! Jadi, walaupun yang naik banyak banget (karena rutenya sudah banyak menyebar sampai pinggiran kota) tapi ngga rusuh-rusuh amat. Salut banget sama orang Filipina karena antri sudah jadi budaya, ngga cuma untuk naik MRT atau LRT, tapi juga moda transportasi lainnya seperti jeepney (semacam angkot). Sayangnya, waktu itu belum ada pilihan berkendara yang nyaman dengan harga reasonable (Tahun 2014 Uber baru masuk Manila, belum banyak beroperasi dan hanya menerima pembayaran via credit card) karena taksi disini tidak ada argo, harus tawar-menawar. Duh, saya paling males dan tidak bisa tawar-menawar, jadinya saya hanya naik taksi kalau pulang dari bandara atau mau ke bandara karena tidak ada pilihan lain. Taksinya juga butut semua, seperti taksi gelap di Indonesia. Waktu pertama kali cari taksi, saya menunggu taksi yang bagus dan mengkilap seperti Blue Bird tapi ya ngga akan dapat karena ngga ada yang seperti itu! Saya baru menyadari ini setelah 1 jam lebih menunggu, hahaha…

Hal lain yang patut diacungi jempol dari Filipina adalah manajemen pariwisatanya yang lebih baik dari Indonesia. Pengelolaan dan pengembangan selalu melibatkan masyarakat setempat dan di beberapa tempat, jumlah turis diatur sesuai daya tampung optimal lingkungan dan wajib melihat video edukasi supaya paham aturan-aturan yang harus dipatuhi untuk menjaga kondisi lingkungan tetap senatural mungkin. Ini saya alami waktu mengunjungi suatu daerah bernama Donsol di Provinsi Sorsogon yang terkenal dengan aktivitas Whale Shark Interaction-nya. Fyi, saya tidak bisa berenang padahal the best things experienced here itu berenang dengan hiu paus. Bisa sih, nonton dari atas perahu aja, tapi saya pikir kapan lagi kesempatan seperti ini datang. Akhirnya saya nekat dan memberanikan diri mengajukan diri ikut terjun ke laut berenang bersama hiu paus. Dan saya ngga nyesel! Bener-bener once in a lifetime opportunity.

Sebelum berangkat, instruktur kami menjelaskan berbagai aturan yang harus dipatuhi, bagaimana prosedur berenang bersama hiu paus dan yang paling penting, NO FEEDING AND NO TOUCH! Kalau sampai dilanggar, ada sanksi (denda) yang sangat berat. Ini penting agar hiu paus datang dan tetap hidup sealami mungkin. Di Indonesia, saya belum pernah melakukan Whale Shark Interaction ini tapi dari pengalaman teman yang pernah mengunjungi newly-found tempat wisata seperti ini di Indonesia, daya tariknya justru memberi makan dan menyentuh hiu pausnya yang pada akhirnya mengubah perilaku alaminya.


Oke, sekarang balik lagi ke kehidupan sehari-hari disini, hehe.. Seperti saya sebutkan sebelumnya, pace disini jauh lebih lambat dan orang-orang lebih santai, salah satunya saat berbelanja di supermarket. Saya dan teman yang sudah terbiasa dengan pace orang Jerman yang super cepat, tiba-tiba harus menyaksikan bagaimana kasir men-scan barang dengan santainya dan staf lain mengemas barang dengan pace yang sama. Kalau tidak ada yang bantu mengemas, kasirnya santai saja sampai bantuan datang. Karena gemas, saya dan teman saya mulai mengemas sendiri barang belanjaan kami tanpa maksud lain selain ingin cepat selesai. Beberapa saat kemudian seorang staf datang tergopoh-gopoh mendatangi dan memberitahu kami agar membiarkan dia mengemas barang belanjaan karena dia dimarahi manajernya. Padat karya seperti di Indonesia, hehe..

Disini mata uangnya sudah di-redenominasi loh (1 Philippine Peso = Rp 270 more or less). Saya jadi agak malu waktu sopir taksi membandingkan nilai mata uang Peso dengan Rupiah yang agak njomplang padahal secara perekonomian bisa dibilang Indonesia masih lebih maju daripada Filipina. But, generally orang-orang sini ramah-ramah dan baik ko. Kalau baik ya baiiiik banget kebangetan, bantuin tanpa pamrih ya ampun padahal kenal juga baru aja. Yang nyebelin juga ada, ya dimana-mana sih di seluruh dunia orang nyebelin mah.

Saya tidak pernah ketemu satu orang Filipina pun yang ngga bisa nyanyi! Suaranya bagus-bagus semua! Dan menyanyi sepertinya sudah menjadi budaya mendarah daging yang dinikmati semua orang dari berbagai kalangan dan umur. Mereka juga paling suka nonton basket dan tinju, apalagi kalau Pacquiao yang tanding. Bisa-bisa sekota sepi tidak ada aktivitas karena semua orang fokus menonton pertandingan dan menjadi suporter dari jauh, hehe..

Orang-orang sini, seperti layaknya orang Indonesia, senang liat bule. Teman laki-laki saya orang Jerman dan Kolombia ngga bisa kemana-mana tanpa menjadi pusat perhatian dan objek giggling cewek-cewek lokal karena mereka ganteng banget. Di Indonesia juga orang-orang bakal berpikiran begitu sih, padahal berdasarkan pengakuan pribadi, di negara mereka masing-masing muka mereka termasuk rata-rata! WKWKWKWK.. Kalau lagi jalan bareng, semua mata menoleh melihat kombinasi aneh grup kami (1 laki-laki Kaukasian yang tinggi, 1 laki-laki Latin Amerika yang juga tinggi, 1 perempuan Latin Amerika mungil dan 1 perempuan Indonesia yang juga mungil dan berkerudung). Walaupun begitu, saya agak kaget juga waktu tahu kalau orang-orang disini jauh lebih terbuka dengan perbedaan orientasi seksual, yang sering bisa dilihat secara terang-terangan di depan umum.

Tapii, yang saya salut dari orang-orang Filipina adalah mereka orangnya berani merantau jauuuuh demi mengejar cita-cita. Coba perhatikan, sekarang bukan cuma orang China saja yang ada dimana-mana, Filipina juga! Menurut Nas Daily, ada sekitar 10 juta orang Filipina yang bekerja di lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Wow! Semua orang Filipina yang saya kenal rata-rata punya saudara yang bekerja di US atau negara maju lainnya, seperti Kanada dan Jerman. Tenaga medis dari Filipina termasuk yang top dan banyak dicari. Label ini sudah terbentuk baik dan menjadi nilai jual tenaga kerja dari Filipina. Orang Indonesia terkadang masih terbelenggu dalam zona nyaman negara sendiri sehingga seringkali menolak kesempatan berkembang di luar negeri padahal kontribusi kita terhadap bangsa bisa dilakukan darimana saja kok.

Sekarang tentang keamanan disini, mirip di Indonesia, masih kurang aman dan banyak kriminalitas tapi korbannya entah kenapa lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Teman laki-laki saya suka agak was-was pergi sendirian tapi merasa sangat aman kalau ditemani saya dan temen perempuan saya. Banyak permukiman gated community dengan pengamanan yang sangat ketat karena tingginya tingkat kriminalitas. Soal makanan, mirip dengan Indonesia tapi mereka sangat suka makanan yang manis-manis, terutama dessert. J.CO terkenal banget disini ya ampun, antrinya ngga masuk akal. Padahal di Indonesia seabrek-abrek dan enak banget buat jadi tempat nongkrong karena ngga terlalu penuh. Orang sini belinya berlusin-lusin, ngga ada yang beli 2 atau 6 biji doang seperti saya sampai dikira saya mau beli 6 box, hahaha..

Satu tahun disini rasanya lama sekali, begitu akhirnya bisa pulang ke Indonesia lega banget rasanya, ngga ada yang namanya culture shock (udah waktu di Filipina). Saya tidak henti-hentinya mensyukuri semua hal yang ada di Indonesia. Macet aja bersyukur banget karena seenggaknya naik taksi argo yang aman. Sebahagia itu loh, haha..


AMERIKA SERIKAT (US)

Beda lagi dengan pengalaman saya saat ini tinggal di Pittsburgh, US. Sekarang sudah menikah dan sudah ada buntut, sudah jadi ibu-ibu, jadi cara pandangnya sudah tidak seperti mahasiswa seperti dulu waktu di Jerman atau Filipina. Kegiatannya sekarang berkisar pada urusan rumah tangga dan anak. Masak misalnya, alhamdulillah gas gratis disini (di Jerman juga) jadi saya lebih sering manggang pake oven daripada goreng-goreng pake minyak. Bahan makanan yang mengandung gandum-ganduman banyak yang berlabel gluten free karena banyak orang disini yang punya celiac disease (penyakit autoimun yang menyebabkan kerusakan usus kecil kalau makan makanan yang mengandung gluten). Orang Indonesia jarang yang punya celiac disease, alergi atau sensitif terhadap gluten sehingga hal ini tidak pernah menjadi isu.

Untuk makanan perlu diperhatikan dan sebaiknya dipilih yang berlabel non-GMO (genetically modified organism). Mengutip dari nongmoproject.org:

“Genetically modified organisms (GMOs) are living organisms whose genetic material has been artificially manipulated in a laboratory through genetic engineering. This creates combinations of plant, animal, bacteria, and virus genes that do not occur in nature or through traditional crossbreeding methods. Most GMOs have been engineered to withstand the direct application of herbicide and/or to produce an insecticide. However, new technologies are now being used to artificially develop other traits in plants, such as a resistance to browning in apples, and to create new organisms using synthetic biology.”

Intinya, GMO mengubah kealamian produk dengan teknologi genetik supaya lebih unggul dari produk yang lain. Rata-rata yang dimodifikasi seperti ini adalah bahan makanan pokok karena tingginya permintaan. Keunggulan untuk petani, tanaman jadi lebih kebal terhadap hama sehingga mengurangi penggunaan pestisida dan meningkatkan produktivitas. Bahayanya karena prosesnya bisa menghasilkan senyawa baru yang berpotensi menjadi racun atau alergen dalam makanan. Kalau kita perhatikan dari berita di media, disini banyak sekali penyakit-penyakit aneh yang muncul, yang jarang ada di belahan dunia lain, salah satu pemicunya karena banyak mengonsumsi makanan GMO ini.

Saya tidak terlalu strict kalau belanja mesti beli produk-produk berlabel ini tapi kebetulan bahan makanan yang biasa saya beli rata-rata sudah non-GMO. Telur ada grade-nya, mulai dari AA yang paling bagus sampai B. Semakin tinggi grade-nya semakin bagus eksterior dan kualitas telurnya. Saya sih pilih yang murah tapi bagus aja, A biasanya cukup oke. Puree instan bayi juga terjamin kualitasnya, dibuat dari bahan-bahan organik yang hanya bisa bertahan 1-2 hari, habis itu harus dibuang. Daging steak murah-murah tapi buntut luar biasa mahalnya, 2 bonggol aja $8. Jadi kalau bikin sop buntut, yang dibanyakin daging-daging kecilnya, haha.. Sayuran juga mahal banget, sedih. Bayam cuma ada yang organik, 3 ikat standar Indonesia harganya $6, ngeriiii… Kebalikan dari di Indonesia yah, disini kalau makan lebih murah proteinnya daripada sayurnya.

Terus sekarang saya melihat segala sesuatu berdasarkan kemudahan aksesibilitas untuk bawa anak, apa cuacanya sedang bagus untuk bawa anak keluar dan apakah anak saya bakal nyaman atau ngga dengan suatu hal. Senangnya disini banyak aktivitas gratis untuk semua umur dan semua kalangan, mulai dari storytime untuk bayi, volunteer di berbagai tempat sampai kelas bahasa gratis. Karena cuaca sudah mulai hangat (sudah masuk musim semi), saya sering datang bersama Alya ke perpustakaan untuk ikut storytime session atau hanya untuk bermain dan bertemu anak-anak lain.

Perpustakaan banyak sekali jumlahnya disini, ada di tiap neighborhood (kalau dibandingkan Indonesia mungkin seperti di tiap kecamatan). Yang paling dekat dari apartemen cuma 1 blok jaraknya, dekat pusat keramaian. Bukunya lengkap, up-to-date dan sistemnya sudah online. Buat saya yang suka baca, this is heaven on earth! Di rumah biasanya saya browsing dulu rekomendasi buku-buku yang bagus, terus saya cari di katalog online perpustakaan, booking, nanti dikirim email notifikasi kapan bukunya bisa diambil di perpustakaan pilihan kita. Dan karena semua perpustakaan disini terhubung dalam satu jaringan, selama kita sudah online booking, buku yang kita mau akan dicarikan dari perpustakaan mana saja yang bukunya tersedia duluan (terutama kalau ngantri) dan nanti dikirim ke perpustakaan pilihan kita. Mengembalikan buku juga sama, pinjam dari perpustakaan A bisa dikembalikan di perpustakaan lain selain A. Tiap buku bisa dipinjam selama 3 minggu dan kalau sudah dekat waktu mengembalikan akan dapat email reminder lagi. Misal udah 3 minggu belum selesai bacanya, tinggal perpanjang online. Saya seneng banget bisa pinjem dan baca segala macam buku. Dan manfaat yang paling besar adalah kalaupun saya nanti sudah tidak tinggal di Pittsburgh (kembali ke Indonesia), keanggotaan perpustakaan saya bisa terus aktif selama saya terus meminjam buku (digital atau audiobook lewat aplikasi Kindle atau Libby)! Saya tidak perlu mahal-mahal membeli buku bahasa Inggris seperti di Indonesia, cukup membeli buku-buku yang menurut saya bagus sekali sehingga bisa dibaca ulang.

Tapi, selama beberapa bulan kemarin, karena cuaca luar biasa dingin dan musim dingin berlangsung lebih lama dari biasanya, saya jarang keluar rumah dan bertemu orang. Lama-lama sumpek dan stress sehingga beberapa kali memaksakan diri pergi ke perpustakaan walaupun suhu di bawah nol derajat Celsius, hanya demi ketemu orang dan cari teman ngobrol. Sekarang cuaca sudah sejuk sehingga bisa tiap hari keluar jalan-jalan atau pergi ke taman bermain dekat rumah (Alya senang main ayunan dan perosotan). Alhamdulillah, disini banyak sekali tersedia ruang terbuka hijau dan playground untuk anak-anak (dan jarang ada mall haha.. ) jadi Alya lebih senang bermain di luar melihat pemandangan yang hijau dan asri. Bapak-ibunya aja yang kadang suka kangen pergi ke mall, hehe..

Walaupun sama-sama negara maju seperti Jerman, di banyak kota-kota menengah Amerika (seperti di Pittsburgh) transportasi publik dalam kota hanya berupa bis (kecuali di kota-kota besar seperti Washington DC, New York, LA dan lainnya yang punya kereta Metro). Kereta lebih melayani mobilisasi penumpang dan barang antar kota. Hampir semua keluarga punya mobil pribadi dan jumlahnya rata-rata dua (satu untuk bapak dan satu lagi untuk ibu supaya bisa mudah beraktivitas dengan anak-anak). Mahasiswa banyak yang punya mobil pribadi juga karena memang kemana-mana lebih praktis. Naik bis gratis (untuk mahasiswa. kalau untuk umum, sekali naik $2.5) tapi jadwalnya kurang tepat waktu, sedatangnya saja (bisa di-track menggunakan aplikasi), dan tentu rutenya lebih berputar-putar. Saat saya dan anak saya baru datang di awal musim dingin beberapa bulan lalu, suami memutuskan untuk membeli mobil bekas untuk memudahkan belanja mingguan keperluan rumah tangga dan anak. Ngga kebayang kalau harus jalan kaki bawa bayi dan belanjaan di suhu di bawah nol derajat. Sayang, mobil kami ternyata rusak dan sudah beyond repair jadi kami buru-buru menjualnya. Tapi ternyata menyewa mobil disini gampang sekali, murah dan canggih. Jadi untuk keperluan insidentil, sekarang kami lebih sering menggunakan mobil rental nyewa lewat Budget (harian) atau Zipcar (untuk keperluan beberapa jam) karena menyewa mobil sudah menjadi hal yang umum banget disini. Kadang untuk perjalanan antar kota bisa meminjam dan dikembalikan di kota yang berbeda.

Saya cerita sedikit tentang menyewa mobil dengan canggih menggunakan Zipcar ya. Jadi kalau mau menyewa mobil, kita harus daftar dulu lewat web-nya, nanti dikirimin ID Card yang fungsinya sebagai kunci untuk membuka mobilnya. Terus booking mobil online, datang ke tempat parkirnya, tap ID Card tadi ke scanner di kaca depan atau windshield terus masuk deh. Kunci mobilnya sendiri tergantung terus di dalam dan tidak bisa diambil. Pakai mobilnya, nanti kalau sudah dikembalikan lagi ke tempat parkirnya, matikan mesin, kunci mobil dengan cara tap lagi ID Card ke scanner di kaca depan atau windshield. Seru yah? Ini salah satu kelebihan tinggal di US, teknologinya terdepan, apapun yang baru di-launching duluan disini, harganya relatif lebih murah (dibanding nanti kalau udah sampai Indonesia) terus cepat diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari.

Tapi walaupun sudah maju, disini belum terlalu ramah lingkungan seperti di Jerman. Saya selalu kaget setiap belanja ke supermarket karena petugasnya boros kantong plastik banget! Satu kantong plastik cuma diisi beberapa barang terus didobelin. Kantong belanja dijual di deket kasir tapi kantong plastik gratis dikasih cuma-cuma seabrek-abrek. Dikumpulin untuk dipakai bungkus sampah juga ngga habis-habis karena tiap minggu pasti belanja lagi. Sepertinya saya harus ngumpulin kantong belanja lagi seperti di Jerman, apalagi karena sekarang belanja untuk bertiga. Penmbuangan sampah hanya dibagi dua, recyclables dan non-recyclables. Terus, orang-orang juga masih agak santai dengan aturan, tidak seperti di Jerman yang sangat patuh. Misalnya, walaupun di tiap perempatan sudah ada tombol untuk menyeberang jalan, masih banyak saja yang melanggar aturan seperti menyeberang waktu sinyal belum nyala atau pengendara yang main ngebut-ngebut aja tanpa memperhatikan ada pejalan kaki yang mau menyeberang atau ngga.

Satu hal yang menarik perhatian saya, disini sering sekali lewat mobil ambulans, pemadam kebakaran dan polisi. Ternyata orang sini terbiasa menghubungi 911 untuk berbagai hal darurat ataupun yang berpotensi menimbulkan bahaya. Anak saya pernah jatuh, wajah duluan sehingga mulut dan hidungnya terluka. Alhamdulillah, kondisinya baik-baik saja, tidak demam, rewel ataupun muntah. Tapi, begitu datang ke dokter anak keesokan harinya untuk memastikan kondisinya sehat, saya dan suami sedikit diinterogasi kemudian ditegur karena tidak segera menghubungi 911 setelah kejadian. Karena ternyata kalau bayi berumur 1 tahun jatuh dan terbentur kepalanya, itu termasuk kondisi darurat dan harus ditangani secara cepat untuk memastikan tidak ada yang membahayakan melalui observasi selama 24 jam di rumah sakit. Waduh, seserius itu ternyata. Mudah-mudahan keluarga saya tidak pernah perlu menghubungi 911 deh.

Oke, balik lagi ke kehidupan sehari-hari, karena ada Amazon, APAPUN tersedia disini. Bener-bener SEMUA ADA, bahkan produk-produk lokal tiap negara. Hebat banget! (baca artikel ini untuk tahu bagaimana Amazon bisa berkembang sampai sebesar ini). Mulai dari bumbu dapur kaya kunyit dan kemiri, minyak telon, sampe bumbu Bamboe, super lengkap! Harganya sih jangan dibandingkan dengan di Indonesia, secara produk impor. Tapi ada aja udah bikin saya lega banget. Indomie sih tetep lebih murah beli di toko Asia tapi yang di Amazon varian rasanya lebih banyak. Suami saya daftar jadi member Prime (tiap bulan bayar fee $12.99) dan apapun barang yang dipesen (yang ada logo Prime-nya) akan tiba dalam waktu 2 hari gratis ongkir. Di Indonesia mungkin biasa yah, tapi disini ongkir itu bisa di atas $5 sendiri, belum sama pajak yang biasanya belum dimasukkan dalam harga yang tercantum. Seringkali sudah senang dapat harga yang murah eh ternyata pas mau check-out jadi mahal. Makanya disini saya daftar jadi member di berbagai tempat belanja (offline atau online) karena sering dapat notifikasi kalau ada sale, dikasih kupon diskon untuk pembelian pertama atau pembelian selanjutnya, dan ada student discount juga (pakai punya suami). Walaupun email jadi penuh isinya sama promo tapi kalau memang lagi perlu beli jadi berkurang lumayan banget harganya.

Untuk kosmetik, ada Sephora dan Ulta, bisa juga di Amazon tapi lebih lengkap dan terpercaya di kedua tempat itu. Ini karena Amazon mengumpulkan produk-produk dari pihak ketiga, dan kadang pihak ketiga ini berlomba-lomba ngasih harga murah tapi dengan mengorbankan kualitas. Kalau baca review kadang ada yang suka dapet produk bekas atau rusak. Harus pintar-pintar memilih produk dengan teliti dengan membaca review supplier-nya. Free ongkirnya agak mahal (minimal $50) dan nyampenya juga biasanya lebih dari 3 hari, tapi suka dapet trial size produk-produk bagus kaya concealer YSL, parfum Marc Jacobs, moisturizer Belif, dll.

Sekarang tentang orang-orangnya. Amerika penduduknya sudah sangat internasional, apalagi di kota-kota yang ada universitas besar. Selain orang Amerika sendiri, banyak sekali orang keturunan Latin Amerika, Eropa, Afrika, India, Jepang, Korea, China dan negara Asia lainnya yang bisa ditemui disini. Banyak yang sudah menetap lama bahkan menjadi warga negara Amerika. Kakak sepupu saya melahirkan kedua anaknya di Amerika sehingga anak-anaknya berkewarganegaraan ganda (RI dan Amerika Serikat). Ini karena Amerika menganut asas Ius Soli (yang menentukan kewarganegaraan seseorang berdasarkan negara tempat kelahiran) sementara Indonesia Ius Sanguinis (kewarganegaraan berdasarkan garis keturunan). Jadi nanti saat anak-anaknya sudah berumur 18 tahun, mereka wajib memilih salah satu kewarganegaraan, apakah mau menjadi WNI atau WNA.

Saya sempat agak kesulitan memahami bahasa Inggris orang-orang disini. Mereka berbicara sangat cepat dengan kalimat-kalimat panjang dan mulut agak tertutup. Saya yang pernah belajar bahasa Jerman dan Spanyol (dimana semua kata diucapkan sesuai dengan penulisan) juga mendengar bahasa Inggris orang Filipina (yang masih mudah dimengerti walaupun intonasinya sangat khas), merasa agak terkaget-kaget dengan banyaknya kata yang bisa keluar dalam satu kalimat, dalam tempo yang sangat singkat, dan pelafalan kata-kata yang terasa agak lebay dan terkadang menggunakan idiom yang kurang familiar untuk saya, persis seperti di serial-serial tv. Feel-nya beda dengan bahasa Inggris orang Inggris yang tertutup aksen yang lebih kuat. Tapi terus saya pikir-pikir, ya beginilah bahasa Inggris orang Amerika. Lama-lama saya mulai terbiasa berpikir cepat memahami kalimat-kalimat panjang dan memberikan respon yang cukup pas.

Mereka juga sangat to-the-point, beda dengan orang Inggris yang kalau ditanya suka muter-muter pakai teka-teki jawabnya. Saya pernah nanya ke petugas di stasiun kereta di London apakah bener kereta A ini langsung ke Leavesden, dia jawabnya begini, “Kalau saya ngga suka kamu saya bakal ngasih tunjuk kamu kereta B”. Kan bingung kan? I just need a simple Yes or No. Dan gara-gara dia ngasih jawaban yang membingungkan ini, ujung-ujungnya saya jadi naik kereta B yang berhenti di tiap stasiun padahal maksud hati mau naik kereta A yang ekspress. Ugh! Lain lagi dengan orang Indonesia (kaya saya) yang suka basa-basi. Ditawarin tumpangan ke rumah, jawabnya “Ngga ngerepotin nih? Nanti ribet ngga buat anak-anak kamu?” Padahal temen saya sudah memikirkan solusi gimana supaya 3 anak kecil bisa naik mobil yang cuma punya 2 car seat. Dia jawabnya enteng aja, “Oh ya udah, saya cuma nawarin. Kalau kamu lebih milih jalan 15 menit ke rumah, terserah kamu aja”. Jadilah saya yang malu buru-buru menerima tawaran ditumpangin pulang ke apartemen (cuma 3 menit naik mobil, apalagi dengan kecepatan nyetir orang-orang sini, terutama ibu-ibu, yang luar biasa ngebutnya!). Jadilah sekarang saya tidak mengenal basa-basi, haha..

Yah, begitulah kesan-kesan singkat saya tinggal di Jerman, Filipina dan Amerika Serikat. Tinggal di negara maju memang enak, tapi tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan tinggal di negara sendiri. Apalagi mendekati bulan Ramadhan seperti ini, saya semakin kangen keluarga dan Indonesia. Terbiasa menjadi mayoritas di negara sendiri lalu menjadi minoritas di negara orang itu membuat kita menghargai dan mensyukuri hal-hal kecil yang tampak sepele di negara sendiri. Alhamdulillah, selama tinggal di negara orang saya tidak pernah mendapat perlakuan rasis. Di Jerman, saya merasa orang agak sedikit menjaga jarak ketika naik transportasi publik tapi saya malah senang karena diberi space. Di Filipina, orang-orang menatap saya dengan segan, mengira saya orang muslim Mindanao. Di Amerika, yang menurut pemberitaan media massa sangat rasis terhadap muslim, pada kenyataannya orang-orangnya sangat ramah terhadap saya. Saya sering sekali disapa orang di jalan, diajak ngobrol, apalagi kalau saya bawa anak saya yang sering menarik perhatian kakek-nenek dan ibu-ibu. Pernah bersama teman mengalami kejadian tidak mengenakkan, dimaki-maki karena minta tempat duduk di bis (?) tapi itu mah karena orangnya aneh aja.

Saya masih sekitar setahun lagi disini, I will enjoy it to the fullest. Mungkin lain kali saya bikin tulisan perbandingan negara-negara ini dari sudut pandang saya sebagai urban planner yah. Mudah-mudahan sempat. Dan mudah-mudahan dapat kesempatan tinggal di negara yang berbeda lagi setelah US ini, hehe..

 
 
 

 
 

 
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *