Book Review

Book Review #1 and #2

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di post ini, salah satu hal yang paling saya nikmati selama tinggal di Pittsburgh, Amerika Serikat adalah jaringan perpustakaannya yang sangat luas (ada di tiap neighborhood) dengan koleksi buku yang sangat lengkap. Saya bisa pinjam banyak buku-buku bagus (masing-masing selama 3 minggu) dengan sangat mudah. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari print book, e-book, audio book, DVD sampai Video Cassette. Saya biasanya memilih print book karena tidak ada yang bisa menggantikan nikmatnya membaca dan memegang buku secara fisik.

Sebelum pinjam, saya sering mencari rekomendasi buku dari berbagai sumber terlebih dahulu lalu mengecek website katalog perpustakaan. Kalau tersedia, saya booking secara online untuk diambil di perpustakaan pilihan saya. Bukunya bisa dari perpustakaan mana saja, yang tersedia duluan (terutama kalau antriannya banyak), dan nanti bisa saya kembalikan dengan cara yang sama, di perpustakaan mana saja. Kalau sudah waktunya dikembalikan, akan dapat email reminder. Tapi kalau misal belum selesai baca, bisa diperpanjang secara online juga. Benar-benar praktis dan sangat mendorong budaya membaca! Akhir-akhir ini saya punya lebih banyak waktu luang setelah menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah karena seiring dengan semakin besarnya Alya, dia semakin anteng main sendiri. Apalagi saat bulan Ramadhan dan summer break seperti ini, aktivitas di luar agak terbatas dan suami ada terus di rumah jadi bisa gantian menjaga Alya. Saya manfaatkan saja untuk membaca berbagai buku menarik dari perpustakaan atau milik suami dan akan saya tulis review singkatnya disini.


Book Review #1

Buku pertama yang saya tamatkan sejak tinggal disini adalah The Happy Sleeper: The Science-Backed Guide to Helping Your Baby Get a Good Night’s Sleep-Newborn to School Age. Isinya tentang bagaimana mengajarkan anak tidur pulas sendiri.

Saya dapat rekomendasi buku ini dari sesama new-moms yang saya temui saat baby storytelling session di perpustakaan. Dua ibu baru yang baru saya kenal ini (anaknya masih 2,5 bulan saat itu) dengan antusias memberi testimoni meyakinkan tentang bagaimana bayi-bayinya bisa tidur pulas sendiri setelah mereka menerapkan teknik-teknik yang diajarkan dalam buku ini. Tergiur dengan prospek memiliki me-time lebih banyak karena saat itu Alya sedang susah-susahnya tidur sendiri (tiap setengah jam bangun) walaupun sudah kenyang menyusu dan ngempeng lama, saya langsung browsing katalog perpustakaan dan booking buku ini secara online. Menamatkan buku ini ternyata harus agak berjuang (sampai harus diperpanjang) karena kurang cocok dengan kondisi saya saat ini. Satu hal yang cocok dengan kondisi saya dan Alya (tapi menurut penulis kurang tepat karena membuat anak sulit tidur sendiri) adalah mengasosiasikan waktu menyusui dengan waktu tidur. Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan ini yang menjadi catatan saya, tentunya tidak instan dan perlu pengorbanan dari kedua orangtua. Tapi teknik-teknik lainnya agak sulit saya terapkan karena target reader-nya adalah American family yang kondisinya rata-rata bayi tidur terpisah dari orangtua di kamar sendiri. Sementara dengan kondisi kami saat ini (tinggal di apartemen 1 Bedroom, tidur sekasur bertiga, kasur diletakkan di lantai tanpa pengaman, kamar mandi di dalam kamar tidur, lantai kayu yang bunyi keriyat-keriyet setiap kami berjalan atau mengendap-endap), rasanya impossible untuk menerapkan teknik-teknik yang diajarkan buku ini. Memang ada bahasan khusus tentang co-sleep (tidur bersama orangtua) tapi sangat singkat dan lagi-lagi ada pre-requisite lain yang tidak sesuai kondisi kami. Jadi, ya sudah, buku ini seperti selewat saja rasanya. Kurang mengena buat saya karena susah diterapkan.

Agak sedikit kecewa karena membayangkan malam-malam panjang dimana saya masih harus bolak-balik ke kamar menidurkan Alya setiap setengah jam ketika saya akhirnya bisa menikmati me-time walaupun sudah ngantuk, tiba-tiba saya membaca komen ibu-ibu dengan kondisi sama seperti saya di salah satu postingan Instagram tentang cara mengajarkan anak tidur sendiri. Walaupun jadi tidak punya me-time, ibu-ibu ini mensyukuri kondisi bayinya yang hanya bisa tidur dalam dekapan ibunya dan menganggapnya sebagai bonding time yang sangat berharga karena waktu akan cepat berlalu dan tanpa terasa anak yang sebelumnya bayi akan tumbuh semakin besar dan mandiri, tidak perlu bantuan ibunya lagi.

Membacanya semangat saya langsung naik lagi tapi juga sedikit sedih karena merasa saya ini ko masih perhitungan saja sama anak padahal hidup saya jadi lebih berwarna setelah ada Alya. Tapi setelah 1 tahun, lama-lama Alya mulai bisa tidur lebih pulas tanpa terbangun beberapa kali di malam hari. Alhamdulillah, saya jadi punya waktu untuk beres-beres rumah, membaca dan menulis blog seperti ini.


Book Review #2

Buku selanjutnya yang saya baca adalah The life changing magic of tidying up oleh Marie Kondo. Buku ini sudah sering saya dengar sebelumnya tapi baru saya cari setelah menonton post-series Gilmore Girls: A Year in Life (hehe..), di satu adegan dimana Emily Gilmore, neneknya Rory, menyingkirkan banyak barang dari rumah setelah kakeknya meninggal karena terinspirasi buku ini.

Beberes itu ada ilmunya.

Itulah inti yang ingin disampaikan Marie Kondo dalam buku ini. Selama ini beberes sering dianggap sebagai suatu skill yang akan terasah dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Padahal beberes, seperti layaknya kemampuan lain seperti memasak dan menjahit juga ada ilmu dan tekniknya. Membaca buku ini saya seperti tercerahkan karena sang penulis menggambarkan beberes seperti semacam proses pembersihan dan pemulihan jiwa (yang hanya perlu dilakukan sekali-sekali, bukan tiap hari!)

Caranya, yang dia namakan The KonMari Method (berdasarkan namanya) cuma dua:

  1. Buang barang-barang dan hanya simpan yang membuat hati senang. Urutan membereskannya dimulai dari pakaian, buku, dokumen, miscellaneous, mementos (hal-hal penuh kenangan).
  2. Simpan dan atur semua barang sekaligus.

Buat saya buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca. Selain karena topiknya sangat dekat dengan keseharian, isinya juga tentang teknik-teknik beberes yang (lebih) tepat dilakukan dan lebih detail dari 2 cara tersebut di atas. Untuk sekarang, saya baru menerapkan ini di apartemen saya yang jumlah barangnya masih relatif sedikit, tapi saat sudah pulang ke Indonesia nanti, target utama saya adalah rumah di Bekasi yang penuh barang-barang tidak terpakai.

I recommend this book to everyone, karena semua orang perlu beberes 🙂


Featured image from https://www.newyorker.com/culture/cultural-comment/kirkus-reviews-plight-of-the-problematic-book-review

 

 
 

 
 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *