Travel

Menjelajah Amerika Serikat bersama bayi: Washington DC

Sudah sampai Amerika, harus kemana-mana dong! Secara banyak kota-kota besar di US seperti Washington DC, New York, Los Angeles dan lainnya yang harus dikunjungi setidaknya sekali selama disini. Kalau udah balik ke Indonesia, sepertinya saya sulit memilih Amerika sebagai tujuan liburan terutama karena lamanya perjalanan kesini (yang bisa lebih dari 1 hari) dan mahalnya biaya perjalanan.

Sebagai pemanasan, saat spring break bulan Maret kemarin, kami memutuskan untuk melakukan road trip ke Washington DC selama 4 hari 3 malam. Itung-itung trial run traveling bersama bayi. Suami bagian ngurusin mobil dan akomodasi. Saya ngurusin keperluan anak dan makanan. Kekhawatiran terbesar kami saat traveling ini cuma satu, (anak kami) Alya, yang saat itu usianya 9 bulan. Kami berpikir, bagaimana caranya supaya dia mau duduk tenang di car seat. Di Indonesia, karena tidak ada kewajiban penggunaan car seat untuk bayi (walaupun banyak orangtua sekarang sudah menyadari pentingnya car seat dan memasangnya di mobil), saat naik mobil Alya biasanya hanya dipangku di kursi belakang. Ketika pindah kesini, mau tidak mau kami harus melatih dia untuk duduk di car seat setiap bepergian. Reaksinya mulai dari yang menolak mentah-mentah pertama kali sampai akhirnya cukup tenang untuk setidaknya bepergian selama 30 menit-1 jam. Tapi kami belum pernah membawa dia bepergian tanpa berhenti selama lebih dari 1 jam karena biasanya hanya di sekitar Pittsburgh saja. Sementara perjalanan kami nanti akan memakan waktu sekitar 4-5 jam. Semua barang yang sering dia mainkan saya bawa. HP (untuk nonton video Pinkfong favoritnya) sudah saya charge 100% sebagai pilihan terakhir kalau dia sudah tidak bisa ditenangkan dengan apapun. Tapi hiburan utama untuk Alya sebenarnya adalah ibunya sendiri yang sepanjang perjalanan sibuk ngajak ngobrol, cerita, nyanyi, dan bercanda untuk mengalihkan perhatiannya.

Dan karena semua harus stay di posisi masing-masing di mobil terikat seatbelt, Alya juga harus makan dengan posisi yang sama. Kirain bakal lebih gampang karena seatbelt-nya lebih pas di badan, eh lupa kepala dia kan tetep bebas, jadi nyuapinnya tetep perjuangan. Menunya bermacam-macam puree instan buah dan sayur merk Gerber dalam kemasan tub kecil karena lebih praktis. Ibunya penasaran nyobain rasa Mac n Cheese ternyata anaknya ngga doyan, haha.. Ko malah mengikuti selera ibunya. Selesai main dan makan, anaknya mulai ngantuk. Terbiasa tidur sambil disusui, ngga lama Alya mulai ngamuk karena pengen tidur. Ngga ada pilihan lain, ibunya cuma bisa nenangin dan nyanyiin karena ngga boleh dilepas dari carseat-nya. Lama-lama, dia tidur juga walaupun sambil agak ngedumel. Untungnya sejam kemudian, kami melewati rest area sehingga bisa berhenti sebentar untuk istirahat, ke toilet, dan menyusui. Sepanjang perjalanan, saya tegang ngga bisa tidur karena banyak mendengar cerita kalau ada banyak polisi lalu lintas yang siaga mengawasi kecepatan mobil-mobil di jalanan. Fyi, Amerika termasuk negara yang sangat strict soal aturan speed limit, yet America drivers routinely exceed the speed limit. Saya dan suami sampai heran mengamati di jalan, ini kok yang jalannya paling lambat cuma mobil kita sendiri padahal kecepatannya persis di bawah speed limit.

Beberapa jam kemudian akhirnya kami sampai di Washington DC. Rasanya kaya mimpi begitu masuk downtown. Ngga pernah kebayang bisa nyampe sini karena jujur dulu saya kurang tertarik dengan Amerika Serikat. Entah kenapa Eropa lebih menarik perhatian saya. Tapi, begitu sampai sini ternyata sama mengagumkannya. Alhamdulillah bisa diberi kesempatan melihat dunia. Kami sampai sekitar jam 3 sore dan langsung menuju ke penginapan Airbnb untuk menyimpan barang. Kami sengaja mencari akomodasi yang letaknya dekat dengan National Mall, karena tempat ini merupakan atraksi wisata utama di Washington DC. Surprisingly, the house was sooo lovely (hadn’t found out the price yet, which will make me surprised later on haha..) Simple, yet uniquely designed, neat and full of books!! I was stunned at the sight of bookcases filled with books of various topics, big and small, pictures and words, black-white and colorful, luring me to open and read them. Such a dream house!

Setelah menurunkan barang dan ngobrol sebentar dengan pemilik rumah, kami memutuskan berjalan-jalan di area National Mall yang dekat dari akomodasi karena sore masih agak terang dan memutuskan beristirahat saja hari itu. Keesokan paginya, ternyata pemilik rumah sudah menyediakan sarapan, American breakfast style. Sambil makan dan menyuapi Alya, kami ngobrol lebih banyak tentang rencana kami di Washington DC dan meminta rekomendasi tempat-tempat yang wajib dikunjungi di National Mall. Jadi, National Mall itu adalah area seluas 146 acres yang menjadi lokasi beberapa gedung pemerintahan (seperti Capitol, Library of Congress dan White House), berbagai museum besar yang gratis (seperti National Gallery of Art, Natural History Museum dsb), dan iconic landmarks (seperti Washington Monument dan Lincoln Memorial). Kalau sering lihat berita tentang Amerika, pasti setidaknya pernah melihat beberapa landmark di National Mall, terutama White House, karena Washington DC merupakan kota pusat pemerintahan AS.

And off we go! Kami jalan kaki sekitar 15 menit sambil mendorong stroller Alya ke National Mall. Saat itu pertengahan Maret dan baru mulai musim semi jadi suhunya masih sekitar 8 derajat Celsius dan cukup berangin jadi kami masih memakai jaket tebal. Sebenarnya ada Cherry Blossom Festival di Washington DC bulan Maret ini, tapi sayang acaranya (dan momen bunganya mekar) masih seminggu lagi, keburu spring break-nya selesai deh, jadi kami hanya mengunjungi tempat-tempat di National Mall saja. Yang pertama kali kami kunjungi adalah Museum of Natural History. Dari dulu saya selalu senang mengunjungi museum-museum dengan tema ini, contohnya Museum Zoologi di Kebun Raya Bogor (di Pittsburgh juga sebenarnya ada Museum of Natural History, sayang bayar dan tiketnya mahal, sekitar $18. Di atas jam 3 sore setengah harga dan di weekend ketiga setiap bulan sebenarnya gratis, tapi sampai sekarang belum sempat juga kesana) . Saat kami datang, sedang ada renovasi di bagian kanan-kiri pintu masuk sehingga akses wheelchair yang seharusnya bisa kami manfaatkan untuk masuk dengan stroller Alya jadi tertutup. Akhirnya Alya saya gendong, stroller dilipat, digotong suami naik tangga sampai ke pintu masuk dan dipasang lagi di dalam. Pemeriksaannya cukup ketat dan kami datang bersamaan dengan rombongan anak sekolah study tour sehingga suasananya agak sedikit hectic.

Kami disambut replika Gajah Afrika besar yang menjadi simbol museum. Setelah berfoto sebentar, kami mulai menjelajahi isi museum yang sangat besar dan luas. Saya agak sedikit ‘panik’ saat masuk. Bukan panik yang mengkhawatirkan tapi lebih karena ada begitu banyak yang bisa dilihat, informasi yang bisa dipelajari dengan tampilan yang sangat interaktif dan atraktif tapi kami tidak punya cukup waktu untuk melihat dengan teliti satu per satu hal yang ada disitu. Masih banyak tempat yang perlu kami kunjungi setelah museum ini, if we want to make the most of our time in Washington DC, which is impossible in only 2-3 days. Selain itu, museum ini (yang memang selalu ramai oleh pengunjung) sedang penuh-penuhnya dengan anak-anak sekolah study tour sehingga rasanya sulit bergerak dengan leluasa di dalam galeri (apalagi sambil mendorong stroller Alya), atau berhenti sebentar untuk membaca display karena bisa menghalangi akses pengunjung lain. Jadilah saya dan suami hanya melewati semua display dengan cepat tanpa bisa mempelajari banyak informasi disini. Exhibition di dalam museum dibagi ke dalam beberapa kategori, diantaranya Mamalia, Lautan, Manusia, Dinosaurus, Mineral Batuan dan Mumi. Saya berandai-andai mungkin kalau saya tinggal di Washington DC, saya bisa datang beberapa kali tiap minggu dan sedikit demi sedikit membaca semua informasi dalam display sampai tamat, hehe..

Selanjutnya, kami memutuskan mengunjungi National Gallery of Art sesuai rekomendasi host Airbnb kami. Gedungnya megah sekali, isinya lukisan dan pahatan yang tersebar di 2 lantai. Di tengah lantai utama gedung ada air mancur besar yang dikelilingi bunga-bunga indah berwarna-warni. Suasananya tenang dan sunyi karena pengunjung menikmati dan mengamati karya seni dalam diam. Saya sebenarnya kurang paham a higher level of art seperti ini, karena otak saya ngga nyampe, haha.. Makanya yang saya lakukan dengan suami hanya menjelajahi galeri selewat saja. Tiba-tiba, ada suara yang memecah kesunyian, ternyata anak saya asyik mengoceh saat kami melewati ruang demi ruang dalam galeri. Khawatir mengganggu ketenangan pengunjung, kami mendorong stroller Alya keluar galeri.

Setelah cukup memuaskan dahaga akan seni, kami keluar dari gedung dan pergi makan siang dengan teman-teman suami saya. Kami makan di restoran India Rasika di D Street tidak jauh dari National Mall. Daerah ini lebih ramai karena ada banyak restoran dan tempat makan. Satu hal yang menjadi perhatian saya disini, jalan-jalan di sekitar National Mall dinamai sesuai alfabet (A Street, B Street, dst..) dan angka (1st Street, 2nd Street, dst). Unik yah, hehe..

Perut sudah terisi, rombongan kami melanjutkan museum tour ke National Air and Space Museum. Sebelum berangkat, host kami sudah memperingatkan bahwa museum ini adalah yang paling ramai dikunjungi di National Mall sehingga mungkin suasananya akan sedikit kurang nyaman. Benar saja, rombongan study tour lain sudah memenuhi museum sebelum kami masuk dan suasana di dalam sudah seperti pasar! Tapi, museum ini paling mengesankan buat saya. Selain karena sudah lama mengagumi sejak melihatnya dalam film Night at the Museum, isinya juga benar-benar mengagumkan! Replika roket and other space-related crafts dari penjelajahan ke Bulan, pesawat dari berbagai era (Wright Brothers, Cold War, dll), dan instalasi terkait tata surya memenuhi 2 lantai bangunan museum dengan megahnya. Museum ini membuat saya berpikir tentang paradoks kehidupan manusia. Betapa besarnya kemajuan teknologi yang sudah dicapai manusia untuk mengeksplor bumi dan luar angkasa, dan betapa kecilnya kita di alam semesta ini. Masya Allah.

That’s it for that day. Sebenarnya masih banyaak sekali museum yang bisa dikunjungi disini tapi yang paling menarik untuk kami kunjungi dalam waktu singkat cuma 2 ini: Museum of Natural History dan National Air and Space Museum. Itu saja kurang optimal. Mungkin kalau ada waktu lebih lama kami bisa mengunjungi museum lainnya. Tapi, setelah mengunjungi 3 tempat hari itu, kami berpisah dengan teman-teman, mampir L’Enfant Plaza untuk membeli makan malam (Panda Express, Chinese Restaurant yang makanannya cocok di lidah kami), pulang dan tepar sampai besok pagi saking capeknya, hehe.. Jadwal makan Alya jadi agak berantakan karena tiba-tiba dia seperti yang tidak merasakan lapar karena keasikan jalan-jalan. Selain itu, sulit mencari kondisi yang kondusif untuk dia makan dengan tenang selama di luar. Jalan satu-satunya ya terus saya susui saja setiap 2-3 jam.

Hari selanjutnya, kami agak lebih santai karena tidak berencana mengunjungi museum lain. Kami memutuskan untuk mengunjungi Washington Monument dan Lincoln Memorial saja. Tapi, walaupun tampak dekat jika dipandang (dari ujung National Mall sebelah timur), pada kenyataannya kami harus berjalan sekitar 3 km untuk sampai ke Lincoln Memorial di ujung National Mall sebelah barat (plus 1 km jalan dari akomodasi ke National Mall). Jalannya juga naik turun sehingga cukup menguras tenaga. Belum lagi setelah melewati Washington Monument (yang sayangnya ditutup hingga tahun 2019 untuk renovasi), Alya menangis karena haus dan tidak mau duduk tenang di stroller. Terpaksa, Alya yang beratnya sekitar 8 kg saat itu (plus jaket tebalnya), harus digendong MANUAL sampai Lincoln Memorial (masih 1,5 km lagi) karena kami tidak membawa baby carrier-nya saking yakinnya kalau dia akan terus duduk manis di stroller. Kami bergantian menggendong Alya dan mendorong stroller sambil menahan dingin karena angin semakin kencang. Begitu masuk area Lincoln Memorial, saya susui dulu Alya di bangku yang terletak di sisi pedestrian. Terpaksa membuang rasa malu harus menyusui di tempat umum (ditutupi nursing cover tentunya) karena tidak ada bangunan dan keadaan darurat. Ekspresi orang yang melewati saya tidak bisa ditebak, apakah risih atau maklum, pokoknya saya cuek saja. Selesai menyusui, kami melanjutkan berjalan.

Ketika sampai di ujung Lincoln Memorial Reflecting Pool, suami memutuskan menunggu di bawah saja bersama Alya karena sudah pernah melihat ke dalam Lincoln Memorial dan sudah tidak sanggup menaiki anak tangga yang menjulang sambil menggendong Alya atau menggotong stroller. Akhirnya saya sendiri naik sampai atas, berfoto sebentar, turun lagi, mampir melihat Korean War Veterans Memorial, kemudian menemui suami dan Alya untuk kemudian pulang. Rasanya ngeri membayangkan harus menempuh perjalanan pulang seperti berangkat tadi, jauh sekali dan rasanya sudah tidak sanggup berjalan, apalagi sambil menggendong Alya. Tapi mau bagaimana lagi (padahal sebenarnya bisa naik bis Circulator dari Lincoln Memorial sampai ke National Air and Space Museum yang sudah relatif dekat dari akomodasi kami). Tapi, saat itu kami sudah tidak bisa berpikir jernih saking capeknya, mau mencari halte Circulator kok seperti sama jauhnya. Kami sampai memutuskan tidak mengunjungi White House juga (untungnya begitu, karena ternyata sedang ada demonstrasi) karena masih harus berjalan lebih jauh lagi. Kami malah naik Metro (kereta bawah tanah) dengan asumsi akan membuat perjalanan lebih singkat dan ringan. Ternyata ngga! Karena kami harus naik turun tangga dan eskalator untuk pindah-pindah jalur. Belum lagi saat sampai di tujuan, ternyata jalannya juga masih lumayan jauh dari penginapan. Kok sepertinya mending jalan kaki seperti berangkat tadi, hahaha…

Sampai ke penginapan, kami beristirahat sebentar, lalu beres-beres karena hanya booking untuk 2 malam. Untungnya, host kami sudah menginformasikan bahwa tamu selanjutnya akan sampai malam hari sehingga kami bisa check-out dengan santai. Tapi kami memutuskan untuk tidak berlama-lama karena pengen jalan-jalan ke mall! Hahaha.. Kangen lama ngga ke mall, kami mampir ke kota sebelah, Pentagon City, dan mampir ke mall-nya. Berputar-putar sebentar, cari souvenir, beli makan malam, lalu melanjutkan perjalanan ke hotel kami yang terletak tidak jauh dari situ.

That’s it for our trip in Washington DC, benar-benar kota yang wajib dikunjungi disini. Besoknya kami kembali ke Pittsburgh dengan hati senang. Alhamdulillah, road trip pertama kami berlangsung lancar. Memang berbeda rasanya dibanding dengan traveling saat masih single dulu. Dulu rasanya semua tempat harus didatangi biarpun baru bisa kembali ke hostel tengah malam. Sementara sekarang santai saja, fisik terasa lebih lemah karena udah capek duluan ngurusin anak, balik ke penginapan saat masih terang karena anak rewel pengen tidur dengan nyaman, dan sedikit-sedikit istirahat. Tapi, entah kenapa, overall rasanya sama menyenangkan 🙂

Selanjutnya kemana lagi ya? Mudah-mudahan ada rezeki untuk mengunjungi kota-kota lain di Amerika Serikat.

 
 
 
 

 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *