Pengalaman

Layanan kesehatan di Amerika Serikat

Kalau bukan karena sekolah, mungkin tidak akan pernah terlintas di benak saya untuk tinggal di luar Indonesia, terutama di negara maju seperti Amerika Serikat.

Kenapa?

Alasan utama, biaya hidupnya mahal. Lebih khusus lagi, yang saya mau bahas kali ini adalah layanan kesehatannya yang luarrrr biasa mahal. Saya (dan keluarga) beruntung karena selama tinggal di luar negeri hidup disokong beasiswa yang sudah meng-cover asuransi kesehatan. Waktu di Jerman, biaya ke dokter diganti dengan sistem reimburse. Dan alhamdulillah, saya cuma sekali ke dokter, untuk nambal gigi seri depan yang bolong. Dan saya masih ingat betapa sulitnya berkomunikasi dengan dokter dan suster disana karena kemampuan bahasa Jerman saya yang terbatas dan terbata-bata saat itu.

Di Pittsburgh, karena punya anak kecil, saya jadi lebih sering lagi ke dokter untuk cek rutin (well-visit) dan imunisasi. Jauh-jauh hari harus bikin janji terlebih dahulu. Kartu asuransi harus selalu dibawa karena tagihan dokter akan dikirim kesana. Cek rutin (saat bayi berusia 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan, 15 bulan, dst), dan imunisasi atau tes yang sifatnya wajib, di-cover 100% oleh asuransi. Tapi begitu rinciannya dikirim ke rumah, saya dan suami terkaget-kaget. Untuk cek rutin Alya 6 bulan (yang termasuk 3 imunisasi) biayanya mencapai $413 sementara cek rutin 9 bulan (tidak ada imunisasi) biayanya $150! Ngga kebayang kalau ngga punya asuransi, pasti harus merogoh kocek dalam-dalam.

Dengan harga segitu, tentu pelayanannya harus bagus dong. Memang! Saya sangat puas dengan dokter-dokter dan tenaga medis yang menangani Alya. Mereka sangat attentive, rincii sekali menanyakan kondisi anak, seakan-akan hanya anak saya satu-satunya pasien mereka. Semuanya dicatat dengan rapi di komputer sehingga history kesehatan anak saya bisa dilihat secara lengkap oleh dokter (dan suster) siapapun yang menangani.

Dan tidak hanya kondisi anak, kondisi ibu juga jadi perhatian penting, terutama ibu-ibu baru seperti saya ini. Saat Alya cek rutin 9 bulan, saya bertanya selintas tentang baby blues dan postpartum depression pada dokter. Tapi dokter bertindak cepat dengan memberikan kuesioner untuk diisi dan ternyata hasilnya saya memang mengalami depresi. Saya diberi saran untuk lebih banyak bersosialisasi dan diberi kontak tempat yang menangani mental health issues. Masalah ini benar-benar dianggap serius karena bisa mendorong ke perilaku destruktif seperti bunuh diri, and suicide is the 10th leading cause of death in the U.S, though research from the CDC showed that more than half of people who died by suicide did not have mental health problems, but were suffering from an outside cause (quoted from this article in Bored Panda).

Karena dokternya seperti ini, kunjungan ke dokter yang untuk saya seringkali malah menimbulkan lebih banyak kekhawatiran, disini jadi sebaliknya. Setiap saya menyuarakan berbagai concern (contohnya berat badan Alya yang ada di kurva ideal bawah dan kemampuan mengunyahnya yang masih agak lambat), dokter menanggapi dengan santai, menyampaikan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan the most uplifting thing is they always say that I did a good job as a mom. Tapi bukan berarti yang kami lakukan selalu benar juga.

Pernah sekali Alya jatuh dari kasur, tapi karena saat itu hari Minggu dan dokter tutup, saya dan suami memutuskan akan membawa dia ke dokter besok Senin. Hidungnya terluka dan berdarah, bibirnya bengkak. Tapi, alhamdulillah anaknya tidak muntah ataupun demam. Besoknya, pagi-pagi saya telepon klinik untuk membuat janji periksa di hari yang sama. Karena tidak termasuk cek rutin, kami harus membayar sebagian biaya periksa, yaitu $25 (sisanya di-cover asuransi). Setelah kami datang dan menjelaskan kejadian jatuhnya Alya kemarin pada suster, dokter datang dengan wajah cemas dan mulai memberondong kami dengan banyak pertanyaan. Saat sadar kalau Alya jatuh kemarin, wajahnya berubah sedikit lega. Tapi kami ditegur karena kejadian seperti ini dianggap darurat dan seharusnya langsung menelepon 911 agar Alya bisa dibawa, diperiksa dan diobservasi di rumah sakit selama 24 jam untuk memastikan kondisinya baik-baik saja. Seserius itu. Syukur Alhamdulillah, anaknya sehat.

Source: http://pittsburghpa.gov/ems/rescue-division

Seorang teman pernah harus menelepon 911 disini karena anaknya jatuh dan kepalanya terbentur. Ketika rincian tagihan datang, totalnya hampir mencapai $3,000!! Untuk ambulance biayanya hampir $1,000 dan penanganan di ER hampir $2,000! Saya langsung pusing hanya mendengar angkanya saja, sementara teman saya harap-harap cemas menunggu kepastian pembagian pembayaran antara asuransi dan yang ditanggung sendiri karena prosesnya lama, bisa sampai 6 bulan. Coba, bayangkan kalau ngga punya asuransi, $3,000 harus dari kocek sendiri semua!

Oke, sekarang tentang pengalaman pribadi saya ke dokter. Masalah saya dari dulu sama, gigi. Mulai dari berantakan, kegedean, ga cukup tempat (sehingga harus diambil lewat operasi), kurang teliti menjaga gigi dan jarang check-up rutin menyebabkan saya harus datang ke dokter gigi, sedihnya, saat kondisi sudah parah sehingga memerlukan penanganan yang lebih serius. Beberapa minggu sebelum pindah ke Pittsburgh, saya ke dokter gigi di dekat rumah di Gresik untuk menambal gigi geraham bungsu saya yang bolong. Sebelum melakukan tindakan, dokter mengatakan kalau tambalan ini sifatnya sementara sehingga kalau giginya bolong lagi atau sakit lagi artinya ya harus segera dicabut lewat operasi. Hiiiii, ngeriii!! Saya sudah pernah operasi gigi sebelumnya dan bisa dibilang sedikit traumatik. Mudah-mudahan ngga usah operasi lah. “Aku berjanji akan menjaga gigiku dengan baik!!” (mata berbinar-binar tapi pembaca curiga, sepertinya tanda hanya wacana). Ternyata tambalannya hanya bertahan 6 bulan saja.

Bulan Mei kemarin tiba-tiba gigi saya sakit lagi dan menyebabkan sakit kepala yang parah. Karena sakitnya sudah tidak tertahankan, saya bikin janji ke dokter gigi yang paling dekat dari apartemen untuk diperiksakan. Ternyata baru dapat jadwal seminggu kemudian. Begitu akhirnya diperiksa dan difoto, dokter mengatakan bahwa gigi saya harus dapat dental cleaning, tapi sebelumnya saya harus segera mencabut gigi geraham bungsu saya yang bermasalah. Dia lalu merekomendasikan untuk segera mengontak Pittsburgh Oral Surgery. Buru-buru saya menghubungi nomor telepon yang diberikan karena sudah ngga tahan, sakit banget! Eh, ternyata baru dapat jadwal konsultasi 2 minggu kemudian! Haduuh, susah amat. Saat akhirnya bisa konsultasi, saya difoto lagi, diperiksa dan disarankan segera mencari jadwal operasi. Yang ternyata masih 1,5 bulan lagi!! Hadeeeehhhh!! Dan biaya operasinya $340! Haduuuuuhhh… (semakin sakit kepala, antara karena sakit gigi dan karena khawatir asuransi ngga nanggung semua). Saya lalu buru-buru lari ke drug store terdekat dan beli obat pain relief yang dijual bebas di pasaran.

Beberapa hari kemudian, saya dapat surat dari asuransi tentang rincian biaya periksa gigi. Loh, dokter pertama cuma ditanggung setengahnya sama asuransi jadi saya masih ada hutang $15. Dan dokter kedua di Pittsburgh Oral Surgery… ebuseeeeetttt!!! Foto sama bikin jadwal aja $180!!! Ditanggung sih tapi tetep bikin lemes. Deg-degan khawatir tiba-tiba disuruh bayar ratusan USD sehingga pingsan abis operasi (mulai lebay tapi takut beneran kejadian), saya langsung bikin daftar pertanyaan dan telepon asuransi. Alhamdulillah, ditanggung 100%!! Eh, tapi katanya kalau in-network. Kalau out-of-network harus bayar sekian persen. Saya bingung, begitu nanya perbedaannya apa cuma disuruh ngecek website-nya untuk memastikan sendiri status dokternya. Saya mengamati lagi rincian biaya-biaya dokter yang dikirim lewat surat oleh asuransi. Ternyata ada tulisannya disitu dokternya in-network atau out-of network dan setelah saya perhatikan, di tempat yang saya harus bayar itu dokternya out-of-network. Ooh, jadi maksudnya mungkin ngga bekerja sama dengan asuransi saya. Setelah browsing lebih jauh, saya menemukan saran dari asuransi untuk mencari dokter yang in-network untuk lebih menghemat biaya karena selain bisa di-cover oleh asuransi, suka ada diskon juga. Yayaya, saya mengerti sekarang.

Tibalah waktunya operasi. Saya sok-sokan tegar padahal perut mules. Katanya sih sebentar, cuma 15 menit. Dulu di Bandung ko lama banget ya. Sambil nunggu, suami dan Alya pergi ke supermarket dekat klinik. Saya akhirnya dipanggil masuk dan disuruh duduk. Dokter kemudian datang, bertanya kabar dan apa saya sudah siap, lalu menyuntik bius di gusi. Sebenarnya ada pilihan bius total tapi kok sepertinya lebay ya. Dokter gigi sebelumnya juga menyarankan agar saya bius lokal saja untuk meminimalisir follow-up consultation. 10 menit kemudian operasi saya dimulai.

Dokter mengatakan,

“You will feel a lot of pressure and hear some noise.”

Ok, no problem, doc.

Beberapa menit setelah operasi dimulai, rahang saya mulai ditarik-tarik ke kanan dan ke kiri dengan hebohnya oleh dokter dan ini berulang beberapa kali saya ngga bisa ngitung. Ya ampun, ini yang dimaksud a lot of pressure. Ngga sakit sih, tapi rasanya rahang saya bisa copot kapan aja. Saya baru menyadari kenapa ada pilihan bius total karena buat yang tidak siap, this procedure can be quite shocking. Saya aja agak shock walaupun udah pernah operasi gigi sebelumnya. Saya memejamkan mata dan sedikit mengerang dengan harapan dokter menyadari rasa tidak nyaman saya dan mengurangi sedikit pressure pada gigi saya, yang percuma karena memang perlu tenaga ekstra untuk mencabut gigi geraham bungsu yang posisinya awkward dan akarnya sudah mantap seperti kondisi saya ini. Untungnya, beberapa saat kemudian dokter berkata,

“Ok, the tooth is out now!”, kemudian melakukan finishing touch.

Ngga ada 10 menit. Lebih lama nunggu biusnya meresap tadi di awal. Saya terheran-heran,

“Are we done??”

“Yes!”, dokter dan suster yang membantu operasi tersenyum.

Wow, negara maju memang beda. Setelah diberi instruksi perawatan pasca-operasi dan diingatkan untuk langsung menghubungi kalau ada apa-apa yang perlu ditanyakan, saya pun keluar dan pulang. Dokter memberi resep obat pain relief yang cukup kuat tapi karena mengandung narkotik, suster menyarankan saya minum obat yang ada di rumah (apalagi karena saya masih menyusui) dan hanya menebus resep itu kalau obat yang saya minum sudah tidak membantu dan sakitnya sudah tidak tertahankan. Mulut saya agak bengkak dan mati rasa, dan saya masih sedikit ‘nge-fly‘ karena efek bius, tapi karena disarankan makan yang lembut-lembut dulu untuk beberapa hari ke depan, kami mampir supermarket dulu sebelum pulang untuk membeli makanan.

Begitulah cerita saya tentang layanan kesehatan di Amerika Serikat. Mahal memang, tapi kualitasnya memang top. Kalau tinggal disini, selain karena memang diwajibkan punya asuransi kesehatan sebelum berangkat, memang bakal kepake banget nantinya, apalagi yang sudah punya anak seperti saya.

Kita sering lupa mensyukuri kesehatan dan baru ingat betapa mahalnya sehat itu kalau sedang sakit saja. Mudah-mudahan pengalaman saya ini bisa menjadi pengingat untuk selalu menjaga kesehatan ya, apalagi kalau sedang merantau di negeri orang.


Featured image from https://www.lcsun-news.com/story/opinion/columnists/2017/07/15/negative-impacts-new-healthcare-bill/482288001/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *