Personal

Hijrah

Memantau Indonesia dari kejauhan, saya mengamati semakin banyak orang yang berhijrah, mulai dari artis, teman, bahkan saudara, diantaranya dengan memperbaiki cara berpakaian sesuai syariat agama, rajin ikut berbagai kajian agama, dan lainnya. Di sudut apartemen di Pittsburgh, saya berkaca, betapa iman saya dalam kondisi berantakan. Shalat, mengaji, puasa. Betapa kuantitas dan kualitasnya semakin menurun.

Pesan ibu saya dari dulu sama, berulang-ulang di hampir setiap telepon, Whatsapp ataupun video call, agar saya selalu shalat tepat waktu dan membaca Al-Qur’an setiap hari, walaupun hanya satu ayat. Saya menyadari, betapa saya masih selalu butuh diingatkan dalam urusan ibadah. Padahal saya sudah berkeluarga. Padahal saya sekarang seorang ibu, madrasah pertama anak saya.

Betapa saya merindukan adanya sosok-sosok yang selalu mengingatkan untuk segera shalat dan mengaji setiap saat.

Betapa malunya saya pada kondisi diri.

Betapa malunya saya pada anak saya. Anak yang akan berkembang sesuai didikan ibunya.

Betapa tingginya harapan saya untuk dia, alangkah sedihnya apabila saya tidak memberikan bekal yang cukup untuknya menghadapi kehidupan yang akan semakin keras.

Betapa bekal agama adalah modal yang sangat mantap untuk hidupnya. Saya teringat, betapa dia amat senang dan tertarik hatinya setiap melihat bapak-ibunya shalat ataupun mengaji.

Tidak ada yang bisa menolong saya memperbaiki diri selain diri saya sendiri. Semoga saya bisa mendapat hidayah untuk memperbaiki diri seperti mereka yang sudah lebih dulu berhijrah, aamiin..


Featured image from https://medium.com/avaintec-blogchain/the-power-of-self-reflection-is-simple-but-mighty-5cd7a613abfd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *